singkilpost.com- Sejak tragedi pembakaran gereja (Rumah Ibadah Agama Keristen) di beberapa daerah Kabubaten Aceh Singkil, banyak oknum-oknum atau instansi yang mengungkit serta mempublikasikan kasus ini, namun dari sekian banyak desa-desus dan informasi yang beredar masih jauh dari kebenaran berdasarkan fakta yang ada.
Desa Siompin tak terlepas dari sorotan media surat kabar dan media online, begitu banyak informasi yang beredar jauh dari kebenaran sesungguhnya, Desa Siompin merupakan desa rukun sejak puluhan tahun yang lalu, memiliki masyarakat berbagai khas suku, budaya dan agama, desa ini dipadati oleh umat muslim dan umat kristiani.
Desa Siompin terletak di bagian tengah kecamatan suro, desa ini diapit oleh beberapa desa antara lain Desa Keras, Ketangkuhan, Sirimo Mungkur, Desa Siompin juga memiliki bagian atau lorong desa, desa ini terus berkembang seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk.
Menurut penuturan tokoh adat dan tetua kampung desa siompin ini dulunya (1940) hanya perkampungan kecil dan hanya diisi oleh masyarakat mayoritas bermarga berutu dan tinambunan. meskipun masyarakatnya berbeda agama namun tidak pernah ada konfliki sekalipun terjadi apa lagi konflik agama.
Uler Berutu (52 thn) menuturkan " Saya lahir di desa ini dan sampai sekarang masih tinggal di desa ini, dari saya kecil selalu menyaksikan kedamaian dan kerukunan beragama dan kehidupan sosial saling menghormat di desa ini" ujar beliau.
Hal ini juga diperkuat Pak Rabbi Tinambunan (51 thn)" Kerukunan hidup beragama sudah terbentuk dari petua-petua terdahulu. desa siompin ini tidak pernah ada permasalahan antar umat beragama, bahkan kami salin tolong menolong dan hubungan kami sangat kuat bagaikan keluarga.
Pak Rabbi juga menambahkan bahwa bukan hanya dalam desa siompin terjalin hubungan umat bergama yang baik bahkan dengan desa lain seperti desa keras meskipun memiliki masyarakat 99% non muslim kami selalu hidup rukun berdampingan dengan mereka. adapun permasalahan agama yang terjadi pada masa sekarang ini bukanlah terlahir dari masyarakat desa siompin.
Saat ditemui tim singkilpos.com. pihak masyarakat desa siompin menepis semua tudingan yang menyatakan bahawa mereka ada permusuhan antar agama. mereka menyatakan ini semua adalah ulah oknum-oknum yang punya andil dan maksud tertentu.
Hal ini dapat kita buktikan bahwa masyrakat yang beragama kristiani tidak ada merasa terkucilkan di desa siompin, hubungan mereka dalam kehidupan sosial bermasyarakat sangat baik sampai hari ini, ini adalah satu bukti otentik bahwa konflik agama tidak pernah lahir di desa siompin.
singkilpost juga berhasil mengorek informasi tentang penerapan syariat islam di desa ini, dari pak sakkap berutu (53thn) putra asli desa siompin ini bertempat tinggal tepat di simpang lorong desa keras, pak sakkap menuturkan bahwa masyarakat desa siompin sangat memegang teguh aturan adat-istiadat, adapun syariat agama islam yang akan diterapkan di desa ini haruslah melalui jalur adat terlebih dahulu agar masyarakat dapat menerima dengan baik.
Masyarakat asli desa siompin tidak pernah sentimen atau mengucilkan setiap pendatang yang masuk ke desa ini, baik hanya bertandang atau tinggal menetap, tidak perduli baik ia berasal dari mana, agamanya apa, masyarakat lokal selalu terbuka dan menjadikan saudara. Jelas pak sakkap berutu.
Hal ini juga diakui oleh pihak masyarakat non muslim setempat, baik yang berada di desa siompin ataupun desa-desa lainnya, termasuk desa keras meskipun masyarakatnya hampir keseluruhan beragama kristiani.
singkilpost juga berhasil mengorek informasi tentang penerapan syariat islam di desa ini, dari pak sakkap berutu (53thn) putra asli desa siompin ini bertempat tinggal tepat di simpang lorong desa keras, pak sakkap menuturkan bahwa masyarakat desa siompin sangat memegang teguh aturan adat-istiadat, adapun syariat agama islam yang akan diterapkan di desa ini haruslah melalui jalur adat terlebih dahulu agar masyarakat dapat menerima dengan baik.
Masyarakat asli desa siompin tidak pernah sentimen atau mengucilkan setiap pendatang yang masuk ke desa ini, baik hanya bertandang atau tinggal menetap, tidak perduli baik ia berasal dari mana, agamanya apa, masyarakat lokal selalu terbuka dan menjadikan saudara. Jelas pak sakkap berutu.
Hal ini juga diakui oleh pihak masyarakat non muslim setempat, baik yang berada di desa siompin ataupun desa-desa lainnya, termasuk desa keras meskipun masyarakatnya hampir keseluruhan beragama kristiani.
